-->

Si Tuwu yang Makin Langka

Tuwu adalah nama burung lokal Indonesia yang berukuran agak besar dengan tubuh dibalut bulu warna hitam yang eksotis. Mata merah sehingga terlihat lebih garang. Burung tuwu jantan dan betina mempunyai warna yang berbeda. Pada burung betina berwarna coklat lurik menyerupai burung wiwik lurik tapi berukuran lebih besar. Jika di daerah saya disebut burung ulik atau kulik.
Si tuwu yang makin langka

Pada waktu saya kecil dulu,suara burung ini masih sering terdengar di kampung saya. Biasanya berbunyi di waktu malam menjelang pagi atau diwaktu subuh menjelang fajar. Suaranya sangat keras dan khas berbunyi ulik ulik ulik untuk suara burung betina,sedangkan suara burung jantan berbunyi tuwuu tuwuu tuwuu yang berulang-ulang dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Burung ini sampai saat ini masih ada yang menganggap sebagai pembawa berita buruk,biasanya dianggap memberi kabar kematian. Saya pernah mengulas tentang burung yang satu ini di blog ini beberapa waktu lalu. Sekarang saya tulis kembali karena kemarin melihat di komunitas jual beli burung online di facebook ada yang mau menjualnya dengan harga yang lumayan tinggi,yaitu Rp8 jt.

Memang saat ini sangat sulit sekali mencari keberadaan burung ini di alam. Ditambah lagi karena burung ini termasuk burung parasit yang tidak mau mengerami telurnya sendiri membuat burung ini semakin pupus. Burung tuwu/kulik ini sama seperti burung kedasih,ketika mau berkembang biak,telur mereka akan dititipkan pada sarang burung lain dan tidak mau membuat sarang sendiri,mengerami maupun membesarkan anaknya sendiri.

Itu sudah menjadi ekosistem alam,bukan seperti manusia yang jika malas bisa berubah menjadi rajin,mereka adalah burung yang selamanya hanya bisa seperti itu. Biasanya telur burung kulik ini akan dititipkan pada sarang burung yang seukuran dengannya,yaitu gagak. Tapi saat ini burung gagak juga sangat sulit dijumpai,menambah sulitnya lagi burung jenis ini berkembang biak.

Jika mau dikembang biakkan dengan teknik pengembang biakan buatan saya rasa sangat sulit,karena kita juga harus memiliki burung gagak atau yang seukuran dengannya,dan pasti membutuhkan ruang yang sangat besar. Saya tidak tahu jika memasangkan burung ini pada satu sangkar besar apakah mau bertelur atau tidak. Jika mau bertelur maka telurnya bisa ditetaskan di alat penetas,tapi rasanya tidak memungkinkan itu terjadi.

Jika ada yang berani mengambil tantangan ini silahkan untuk berimaginasi. Semoga burung ini tidak cepat punah meskipun di pulau atau negara lain masih banyak.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner